Rabu, 02 November 2011

Tanda-tanda Anak Punya Gangguan Mental

img
(Foto: thinkstock)

Vera Farah Bararah - detikHealth

Jakarta, Gangguan mental kadang tidak terdiagnosis termasuk pada anak-anak. Untuk itu peneliti mengeluarkan daftar 11 tanda agar orangtua lebih mudah mengenali masalah mental pada anak.

Beberapa tanda seperti perasaan sedih selama 2 minggu atau lebih bisa menunjukkan gejala depresi, ketakutan yang intens atau kekhawatiran dalam melakukan kegiatan sehari-hari bisa jadi merupakan gangguan kecemasan.

Tapi kadang hal ini tidak disadari, terutama pada anak-anak yang belum dapat menjelaskan apa yang dirasakannya.

Karenanya daftar ini dimaksudkan untuk membantu orangtua atau masyarakat agar lebih mudah mengenali masalah mental pada anak sehingga bisa menerima penanganan dan pengobatan yang tepat.

Studi sebelumnya menunjukkan 3 dari 4 anak memiliki masalah kesehatan mental termasuk gangguan attention-deficit/hyperactivity (ADHD), gangguan makan dan gangguan bipolar yang tidak terdiagnosis sehingga tidak mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.

"Banyak orangtua yang bingung apakah anaknya memiliki masalah, karenanya daftar ini dibuat untuk mempermudah identifikasi sehingga pengobatan lebih efektif," ujar Dr Peter S Jensen, profesor psikiatri di Mayo Clinic, seperti dikutip dari LiveScience, Selasa (1/11/2011).

Berikut ini 11 tanda peringatan anak memiliki masalah mental yang sudah diterbitkan dalam jurnal Pediatric yaitu:
1. Merasa sangat sedih atau menarik diri selama 2 minggu atau lebih

2. Berusaha untuk menyakiti atau membunuh diri sendiri, atau bahkan memiliki rencana untuk melakukannya

3. Tiba-tiba merasa takut luar biasa tanpa alasan yang jelas, kadang disertai dengan detak jantung dan napas yang cepat

4. Terlibat dalam beberapa kali perkelahian, menggunakan senjata atau berkeinginan untuk menyakiti orang lain

5. Memiliki perilaku diluar kendali yang bisa merugikan diri sendiri atau orang lain

6. Tidak mau makan, memuntahkan makanan atau menggunakan obat pencahar untuk menurunkan berat badan

7. Ketakutan atau kekhawatiran yang intensif dan terus menerus dalam melakukan kegiatan sehari-hari

8. Sangat sulit dalam berkonsentrasi atau menempatkan diri pada suatu lingkungan sehingga bisa membahayakan diri atau menyebabkan kegagalan sekolah

9. Penggunaan obat atau alkohol yang berulang

10. Perubahan suasana hati yang parah sehingga menyebabkan masalah dalam hubungan pertemanan atau keluarga

11. Perubahan perilaku dan kepribadian yang drastis

Peneliti mengungkapkan jika orangtua melihat salah satu dari tanda-tanda ini pada anak, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau ahli kesehatan mental untuk mengevaluasi kejiwaan.

Selain itu diharapkan dengan adanya panduan tanda-tanda ini bisa membantu orangtua dalam membedakan antara perilaku yang normal dari masa kanak-kanak dengan tanda dari masalah mental.

Jangan Mengharapkan Minyak Ikan untuk Mencerdaskan Anak

img
(Foto: thinkstock)
Adelia Ratnadita - detikHealth

Jakarta, Mengonsumsi minyak ikan selama kehamilan dapat membantu perkembangan otak janin. Tetapi hal tersebut tidak berarti para ibu akan melahirkan anak yang otomatis cerdas. Suplemen minyak ikan hanya pelengkap gizi bukan pemicu kecerdasan.

Sebuah studi baru yang dilakukan University of Granada di Spanyol menunjukkan bahwa suplemen minyak ikan tidak menyebabkan perbedaan dalam ukuran intelektualitas ketika anak-anak berusia 6 tahun.

Hasil penelitian terbaru ini mendukung penelitian sebelumnya di Norwegia yang juga tidak menemukan perbedaan dalam IQ (Intelligence Quotient) antara anak usia 7 tahun yang ibunya pada saat hamil dan menyusui mengonsumsi suplemen minyak ikan dibandingkan dengan ibu yang tidak mengonsumsi minyak ikan.

Asam lemak seperti asam dokosaheksaenoat (DHA) yang ditemukan pada ikan dan makanan lain selama ini telah dianggap penting bagi janin yang sedang berkembang.

Pertanyaannya, apakah dengan menambahkan suplemen yang mengandung asam lemak tersebut dalam diet ibu hamil dan menyusui lebih lanjut akan dapat bermanfaat bagi bayi?

Untuk membuktikannya peneliti meminta ibu hamil selama paruh kedua kehamilannya untuk mengonsumsi pil yang mengandung minyak ikan, suplemen minyak ikan dengan folat, asam folat saja atau pil yang tidak mengandung suplemen apapun.

Pada 7 tahun kemudian, tim penelitian yang dipimpin oleh Dr. Cristina Campoy dari University of Granada di Spanyol, memberikan tes kecerdasan untuk 154 anak dari kelompok tersebut.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa, anak-anak tersebut memiliki kecerdasan yang sama, terlepas dari jenis pil yang dikonsumsi oleh ibunya selama kehamilan. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition.

Meskipun demikian, tidak berarti bahwa asam lemak seperti DHA tidak penting. Bahkan, para peneliti menemukan bahwa, anak-anak perempuan yang memiliki tingkat tinggi DHA dalam sel darah merah, rata-rata memiliki kecerdasan yang tinggi pada tes kecerdasan pada usia 6 tahun.

"Bagaimana pun juga para ibu tidak terlalu perlu diberi suplemen minyak ikan. Mungkin kecerdasan anak dapat mencerminkan asupan DHA ibu bukan hanya dari suplemen saja, namun dari berbagai sumber selama jangka waktu yang lama. Mungkin juga berarti bahwa jangka panjang asupan asam lemak lebih bermanfaat dibandingkan dengan ibu yang menerima suplementasi DHA saja selama kehamilan," kata para peneliti.

Sebuah penelitian baru di Australia juga menemukan bahwa, suplemen DHA tidak membantu perkembangan penglihatan bayi.

Menurut Dr. Ingrid Helland dari Oslo University Hospital, yang memimpin penelitian sebelumnya Norwegia ada faktor-faktor lain seperti genetika, stimulasi sosial, nutrisi, dan lain-lain dalam membentuk kecerdasan anak.

"Meski begitu jika ada yang berkonsultasi pada saya, apakah harus mengonsumsi suplemen DHA atau tidak, saya tetap akan merekomendasikan suplemen tersebut. Namun tetap menekankan bahwa bukti ilmiah mengenai suplemen tersebut masih belum jelas," kata Dr. Ingrid seperti dilansir dari Epharmapedia, Minggu (30/10/2011).